Perempuan itu terdiam di sisi sebuah jendela buram di atas sebuah kereta yang melaju kencang menuju timur. Malam ini adalah sebuah malam purnama. Malam yang selalu mengingatkannya akan kisah pada purnama yang lain. Kisahnya dengan sang kekasih kala menatap purnama yang sama pada suatu malam yang dahulu, walau jarak membentang di antara mereka.
Gadis itu memandang purnama penuh kebisuan. Sesekali dia menghela nafas panjang karena jalan nafasnya kini penuh sesak oleh kerinduan. Sesekali pula sungai airmata mengalur di pipinya yang halus. Ya, kerinduannya pada seraut wajah dalam purnama memang selalu membuatnya begitu sesak, begitu berdesir, dan begitu berdegup.
Di luar, malam telah semakin pekat, walau cahaya purnama berpendar masuk melalui kaca bening di samping wajah si perempuan. Berbagai siluet di sisi kanan kereta turut melaju kencang dalam pekat. Perempuan itu pun hanya mampu memandangi malam yang kian melarut, menanti fajar yang mungkin akan segera menjemputnya untuk dapat hadir lagi di keesokan harinya. Ya, begitulah hidup bagi si perempuan. Datang dan pergi selalu silih berganti. Seperti siluet hitam pada sisi kanan kaca yang melaju datang dan pergi dengan begitu cepat.
Entah untuk apa si perempuan kini berada di atas kereta malam yang menuju ke timur. Untuk menemui sang kekasih ataukah untuk kembali meninggalkannya dan menyisakan lagi kerinduan yang lebih dalam? Si perempuan pun tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu karena memang dia hanya pergi mengikuti kehendak hatinya. Baginya, seraut wajah yang selalu muncul kala purnama itu selalu mencambukinya dengan rasa rindu yang begitu hebat sehingga dia harus segera membebaskan dirinya.
Kini gerbong-gerbong kereta telah menjadi sepi. Wajah-wajah lelah telah terpejam di sepanjang lorongnya. Hanya kebisuan yang menyelimuti gerbong-gerbong kereta malam ini. Si perempuan memandang sekelilingnya dengan matanya yang mulai sayu. Kantuknya mulai menyerang, telepon genggamnya telah bergetar ribuan kali oleh panggilan yang sama dari orang yang juga sama, namun kesemuanya sama sekali tidak digubrisnya. Kini yang memenuhi tempurung kepalanya hanyalah serut wajah pada purnama yang mungkin sedang menantinya pula dengan kecemasan-kecemasan akan keselamatan dirinya.
Telepon genggam si perempuan kembali bergetar untuk yang kesekian ribu kalinya. Dilihatnya sebuah nama muncul pada layarnya: nama ibunya. Kembali anak sungai mulai mengalir di kedua pipinya. Dia tahu kalau sang ibu begitu menginginkannya untuk kembali dan tidak melakukan perjalanan ini. Tapi, rasa rindunya pada kerinduan ini begitu besar. "Aku hanya ingin menjemput rasa rindu ini, Ibu. Tolong mengertilah". Perempuan itu hanya memandangi nama yang muncul di layar telepon genggamnya dan kembali memandang purnama yang kian codong ke barat.
Langit kini mulai bersemu jingga kebiruan. Fajar mulai akan menjemput pekat dan menelan purnama sekali lagi pada hari ini. Kereta malam akan segera mengantarkan si perempuan ke sebuah tempat yang diinginkannya. Diinginkannya untu kembali menjemput rindunya pada seraut wajah dalam purnama itu. Ya, Aku hanya ingin menjemput rasa rindu ini, bukan melepaskannya.
***
Dan kereta malam pun tiba di tempat yang diinginkan si perempuan untuk menjemput rindunya. Senyum terkembang di bibirnya yang sintal, dibayangkannya tubuhnya akan dihujani oleh pelukan rindu dari seraut wajah dalam purnama, lalu mereka akan berjalan bersama menuju ke kerinduan berikutnya.

Galau hahaha..:p
BalasHapusMaaf, ini bukan ajang galau.. hahaha :D
Hapusini hanya untuk mengungkapkan isi hati :))