Kamis, 01 Desember 2011

Kisah Pelacur



Dia wanita. Belum separuh baya usianya.
Tapi, dia berbeda. Tidak seperti wanita-wanita lainnya.
Dia pekerja, tapi tidak di kantor.
Uangnya sebagian besar dia habiskan untuk membali minuman dan peralatan make-up.

Di malam hari dia mulai bersiap-siap. Menabur bedak tebal di wajahnya yang lelah, menyapukan mascara hitam pekat, dan mengoleskan gincu merah menyala di bibirnya.
Dikenakannya baju terusan mini dengan payet-payet usang di bagian dada.
Dikenakannya sepatu hak tinggi andalannya. Rambut panjangnya yang bercat marun terurai.

Dia siap turun ke jalan yang penuh taburan lampu-lampu dan asap kendaraan.
Targetnya hari ini: mendapatkan seorang laki-laki pejabat dengan harapan menjadi simpanannya.

Malang nasibnya. Tak berapa lama, dirinya harus berkejaran dengan para petugas yang mendadak merazia. Dia panik. Dia tertangkap.
Air matanya berurai membentuk alur-alur hitam di wajahnya. Dia terus memaki dalam hati. Memaki dirinya. Memaki petugas. Memaki keadaan.

Terkutuk! Mengapa hanya pelacur yang ditangkap? Bukankah pelacur tidak akan ada tanpa adanya pria hidung belang itu?
Mengapa harus melulu pelacur yang dipersalahkan? Tapi para pria bejat itu bebas berkeliaran!
Hatinya kering. Terlalu banyak memaki. Matanya menjadi nanar. Sekian.
[Perempatan Lampu Merah, November 2011]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar